Selasa, 05 Oktober 2010

Asal Mula Orang Batak


Dari manakah asal mula orang Batak? Kembali: tak seorang pun dapat
memastikan. Tapi dari beberapa referensi yang diperoleh, setidaknya ada 3
wilayah yg paling mendekati kebenaran, yaitu: (1) Afrika Utara / Mesir, (2)
India, dan (3) Myanmar. Ketiga kemungkinan tersebut masing-masing memiliki
argumentasi sendiri.

1.       Mesir

A.      Kapur Barus (Kamper)

Pada masanya, kamper adalah salah satu produk unggulan dan satu-satunya
hanya ada di tanah Batak, khususnya di daerah Barus --sebuah kota kecil yang
berada di pantai barat Sumatera. Dari bukti-bukti yang ada, pada zaman Mesir
purba, raja-raja Mesir (Firaun) bila hendak mengawetkan mayat (mumi), banyak
menggunakan kamper sebagai bahan pengawet. Diperkirakan, mereka datang ke
tanah Batak sekitar 5000 tahun yang lalu.

B. Kubur-batu (Sarkofagus)

Bila kita pergi ke Pulau Samosir di Danau Toba, di sana kita akan menemui
sarkofagus yang merupakan peninggalan zaman megalitik. Sarkofagus biasanya
dibuat untuk menghormati orang-orang terpandang yang meninggal. Tradisi ini
diduga awalnya datang dari kebudayaan Mesir kuno.

C. Meja Batu

Di tempat yang sama, tepatnya di Desa Sialagan, Pulau Samosir, kita juga
dapat menemui peninggalan kuno berupa seperangkat meja dan kursi yang
terbuat dari batu. Masyarakat Batak kuno bila hendak mengadakan rapat,
biasanya menggunakan perangkat itu di bawah pohon beringin yang rindang. Hal
yang sama juga bisa kita temui pada kebudayaan Mesir kuno. Bahkan, ucapan
khas Batak setiap kali mereka menyelesaikan upacara, "horas!" (selamat),
diduga berasal dari ucapan yang sama di Mesir. Yaitu sebuah ucapan selamat
kepada dewa mereka, Homerus.

2. India


A.      Prasasti Lobu Tua, Barus.

Prasasti ini bertarikh abad XI. Dari prasasti ini kita mengetahui, bahwa di
daerah Barus sudah ada pemukiman orang-orang Tamil pada masa itu. Mereka
datang ke sana untuk berdagang, terutama membeli kapur barus serta hasil
hutan lainnya. Sebagian di antara mereka ada yang menetap, lalu menikah
dengan penduduk setempat, sebelum kemudian menyebar hingga ke daerah Toba
dan Karo di pedalaman. Dari merekalah diperkirakan kebudayaan Hindu masuk ke
tanah Batak. Istilah 'Debata' bagi orang Batak untuk menyebut Tuhan dalam
bahasa religi nenek moyang mereka, konon juga berasal dari bahasa Sansekerta
(Dewata).


B. Candi Portibi, Padang Lawas, Tapanuli Selatan

Bangunan kompleks candi yang terbuat dari batu bata (tanah liat) ini
bercorak Hindu dan diperkirakan dibangun oleh orang India pada abad XI.
Mereka diduga masuk ke pedalaman Tapanuli melalui pelabuhan Air Bangis atau
Pariaman di Sumatera Barat. Bila temuan ini dianggap benar, berarti
orang-orang India yang beragama Hindu sudah lebih dulu masuk ke tanah Batak
bila dibandingkan dengan  Raja Batak yang diperkirakan hidup pada abad XIV.
Sekedar catatan,  Raja Batak adalah orang pertama yang dianggap oleh
masyarakat Batak umumnya sebagai leluhur mereka yang turun dari langit ke
Pusuk Buhit di Pulau Samosir. Dia pulalah kemudian yang dikenal menurunkan
marga-marga, sebagaimana yang banyak kita temui pada masyarakat Batak
sekarang.

3. Myanmar

Suku Karen

Suku Karen adalah kelompok suku yang mendiami daerah perbatasan antara
Myanmar dan Thailand. Mereka umumnya tinggal di daerah pegunungan selama
ribuan tahun lamanya secara eksklusif tanpa dipengaruhi oleh kebudayaan luar
(highlander). Dari beberapa bentuk fisik (mongoloid), pakaian (ulos /
selendang) dan tradisi (yang suka tinggal di daerah pegunungan mengisolir
diri), bisa dikatakan banyak persamaannya dengan masyarakat Batak pada
umumnya.

Karena sesuatu sebab, sebagian di antara mereka kemudian banyak meninggalkan
kampung halamannya untuk mencari penghidupan baru. Kepergian mereka tentu
tidak sekaligus, melainkan bergelombang dan menyebar ke berbagai daerah yang
ada di Asia Tenggara. Di Philipina, misalnya, kita menemui suku Igorot,
tinggal di daerah Batac, Provinsi Ilocos, yang secara bahasa kebetulan
banyak persamaannya dengan bahasa Batak. Bahkan, Presiden Philipina,
Ferdinand Marcos, pada dekade '70-an ketika berkunjung ke Sumatera Utara
pernah menyatakan bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat Batak.

Sementara di Indonesia, kita menemukan 3 suku yang secara kebudayaan relatif
banyak persamaannya, masing-masing: (a) Suku Batak di Sumatera Utara, (b)
Suku Ranau di Sumatera Selatan, dan (c) Suku Toraja di Sulawesi Selatan.
Kebetulan ketiganya sama-sama suka tinggal di daerah pegunungan. Selain itu,
dalam tulisan, suku Batak dan Ranau juga banyak persamaan --khususnya
tulisan yang mirip dengan huruf paku. Sedangkan dengan suku Toraja, suku
Batak lebih banyak lagi persamaannya; baik dalam hal ulos (selendang), rumah
adat (tongkonan / gorga), warna kegemaran (hitam dan merah), serta
penghargaan terhadap kerbau sebagai binatang sakral dalam penyelenggaraan
adat.

Nah, dari beberapa uraian di atas, dari manakah sebenarnya orang Batak
berasal? Kembali lagi: tidak ada yang dapat memastikan. Yang ada adalah
kemungkinan-kemungkinan yang diduga memiliki kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar