Selasa, 05 Oktober 2010

PUSSUK BUHIT

pusuk-buhit-wide.jpg
Ada sebuah gunung keren di sisi barat Samosir. Namanya Pusuk Buhit. Bentuknya seperti piramida yang anggun menjulang tinggi ke awan. Jarang sekali kita dapat melihat puncak gunung dengan ketinggian 2.100 m DPL ini karena selalu terselubung awan. Namun sesekali dia menampakkan wajahnya yang menawan itu, seakan ingin melihat keindahan sekelilingnya, kemudian bersembunyi lagi.
Banyak cara kita dapat menikmati kehebatan Pusuk Buhit ini. Antara lain:

BATU HOBON-ORANG BATAK

Juni 14, 2009
gambar batu hobonMedia Online Bersama Toba dot Com – Keindahan alam yang ditawarkan Danau Toba dan Pulau Samosir telah lama terdengar ke seantero tanah air hingga mancanegara.Namun tak banyak yang tahu tentang potensi yang dimilikinya.

Diantaranya adalah kekayaan budaya yang dapat digali dan bernilai jual lebih jika dikembangkan. Hanya saja kondisinya akhir-akhir ini semakin mengkhawatirkan, akibat pengelolaan yang tidak berpihak pada pelestarian.
Salah satu tempat yang yang ternyata menyimpan banyak cerita bersejarah adalah “Pusuk Buhit” puncak tertinggi yang terletak di Desa Limbong-Sagala, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, berjarak sekitar 15 km dari Pangururan.
Menurut kepercayaan masyarakat Batak, pada abad XII, Pusuk Buhit dianggap sebagai tempat asal muasal seluruh Suku Batak. Dalam perkembangannya, nenek moyang Suku Batak menyebar ke delapan penjuru mata angin, yakni; Purba, Anggoni, Dangsina, Nariti, Pastia, Mangadia, Utara, Irisanna atau dari Timur higga Timur Laut (baca; hingga seluruh dunia). Berada di kawasan ini, seakan berada di sebuah tempat dan jaman yang berbeda.

Asal Mula Orang Batak


Dari manakah asal mula orang Batak? Kembali: tak seorang pun dapat
memastikan. Tapi dari beberapa referensi yang diperoleh, setidaknya ada 3
wilayah yg paling mendekati kebenaran, yaitu: (1) Afrika Utara / Mesir, (2)
India, dan (3) Myanmar. Ketiga kemungkinan tersebut masing-masing memiliki
argumentasi sendiri.

1.       Mesir

A.      Kapur Barus (Kamper)

Pada masanya, kamper adalah salah satu produk unggulan dan satu-satunya
hanya ada di tanah Batak, khususnya di daerah Barus --sebuah kota kecil yang
berada di pantai barat Sumatera. Dari bukti-bukti yang ada, pada zaman Mesir
purba, raja-raja Mesir (Firaun) bila hendak mengawetkan mayat (mumi), banyak
menggunakan kamper sebagai bahan pengawet. Diperkirakan, mereka datang ke
tanah Batak sekitar 5000 tahun yang lalu.

Beberapa Peninggalan sejarah Batak

Ceremonial Textile (Ulos Ragidup), late 19th–early 20th century
Toba Batak people, Sumatra, Indonesia
Cotton; L. 42 1/2 in. (108 cm)
Gift of Ernest Erickson Foundation Inc., 1988 (1988.104.25)
Bahan tekstil mahakeramat orang Batak Sumatra utara ragidup ,yang artinya secara harafiah berarti “pola hidup.”
Baik selama maupun di luar kehidupan seorang individu, ragidup memainkan peranan penting.
Barangkali yang paling kritis terjadi kalau seorang wanita hamil dengan anak pertamanya.
Pada waktu ini, orang-tuanya biasanya memberikan dia ulos ragidup, atau ulos ni tondi atau “kain jiwa,” yang ,e,iliki kekuatan luar biasa untuk melindungi dia dan keluarganya seumur hidupnya.
Selama upacara, seorang spesialis dipanggil di atas untuk “membaca” kain, yang pola kompleksnya dikira meramalkan masa depan wanita.

SEKELUMIT MENGENAI SUKU BATAK YANG MASIH SERING DIPERDEBATKAN



Versi sejarah mengatakan si Raja Batak dan rombongannya datang dari Thailand, terus ke Semenanjung Malaya lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula Mula, lebih kurang 8 Km arah Barat Pangururan, pinggiran Danau Toba sekarang.
Versi lain mengatakan, dari India melalui Barus, atau dari Alas Gayo berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba.

Berdasarkan hitungan sejarah versi Tarombo tertulis hingga saat ini, diperkirakan Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 M (awal abad ke-13). Raja Sisingamangaraja XII salah satu keturunan si Raja Batak yang merupakan generasi ke-19 (wafat 1907), maka anaknya bernama si Raja Buntal adalah generasi ke-20.

SILSILAH ATAU TAROMBO BATAK

SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu:
1. Guru Tatea Bulan
2. Raja Isombaon

GURU TATEA BULAN
Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Bburning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :

* Putra (sesuai urutan):
1. Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng), tanpa keturunan
2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu)
3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong).
4. Sagala Raja (keturunannya Sagala)
5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)